Sunday, September 24, 2017

REVIEW: Origami Hati

Boy Candra
iv + 296 halaman
Mediakita, 2017

Jangan berpaling dan membuat kita menjadi
dua orang asing. Di hamparan bumi ini ada
banyak sekali orang yang bisa merebutmu, juga
mencuri perhatianku.

Namun, aku ingin tetap kamu dan aku saja
Yang menjadi kita. Aku ingin kamu saja yang
menemaniku membuka pagi hingga melepas senja,
menenangkan malam dan membagi cerita.
Tetaplah menjadi seseorang yang membuatku
merasa kuat. Jangan biarkan hatimu lepas dari
segala harapan yang aku ikat.

 
“Nggak ada yang terlalu cepat atau terlalu lama untuk sebuah perasaan jatuh cinta. Karena cinta nggak punya waktu.” – halaman 198
 

Novel ini bercerita tentang Aruna, seorang mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang yang baru saja dikhianati oleh pacarnya – Haga. Selama 3 tahun berpacaran, Aruna sudah memberikan seluruh hatinya pada Haga, namun lelaki itu malah bermain hati dengan perempuan lain. Bisa dibayangkan bagaimana galau-nya Aruna. Sampai akhirnya Aruna bertemu dengan Bagas, mahasiswa tingkat akhir di universitas yang sama. Dia lelaki penyuka senja. Dulu dia sering menikmati senja bersama dengan Anila, mantan kekasih yang direnggut paksa darinya.

“Kenangan memang suka begitu. Datang melalui hal-hal yang serupa. Lalu mengingatkan lagi bagaimana sakitnya terluka. Melelahkan dan seringkali berakhir tidak menyenangkan.” – halaman 37

Bagas, lelaki yang sering dianggap aneh oleh kebanyakan orang, dialah yang bisa membuat Aruna pulih dari patah hatinya. Perasaan nyaman membuat keduanya saling jatuh cinta, namun masih terikat dengan cinta masa lalu, terutama Aruna. Terlebih lagi saat Haga muncul di hadapannya, mencoba meminta kembali hatinya. Akankah Aruna memilih Haga yang sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya atau dia lebih memilih Bagas, lelaki aneh yang selalu penuh kejutan?

“Kadang mencintai bukan hanya perkara sekadar bersama, tetapi juga tentang kesiapan untuk sebuah perpisahan – untuk sebuah perpindahan. Pindah dari jalur sebuah cerita yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tetapi itulah cerita yang paling baik hakikatnya.” – halaman 55

Novel ini nggak terlalu tebal dan besar jadi nggak butuh waktu lama buat baca. Aku suka desain sampulnya, cantik. Ada 16 bab dan di akhir bab ada quote-nya. Secara keseluruhan aku suka ceritanya. Meski cerita cinta seperti ini sudah terlalu biasa – patah hati dan move on - tapi menurutku novel ini nggak membosankan. Aku suka gaya bahasa yang dipakai penulis, puitis tapi masih ringan dibaca. Detail tempat dan kejadian diuraikan dengan jelas. Aku suka karakter Bagas dan filosofinya tentang senja, pagi, bintang-bintang, dan hal aneh lainnya.

“Tapi percayalah, Tuhan tidak akan menciptakan rindu jika Ia tidak akan pernah menghadirkan pertemuan.” – halaman 252

Novel ini berlatar di Padang tapi menurutku kurang menonjolkan ke-Padang-annya meskipun ada beberapa tempat yang disebutkan di dalam novel, seperti Jembatan Siti Nurbaya dan Universitas Negeri Padang.  Entah kenapa aku kurang dapat feel pas baca novel ini. Mungkin karena nggak sedang jatuh cinta atau karena sebab lainnya. Bagi penggemar cerita cinta remaja mungkin akan suka dengan novel ini.

“Nggak ada yang terlalu cepat atau terlalu lama untuk sebuah perasaan jatuh cinta. Karena cinta nggak punya waktu.” – halaman 198
 

Sunday, May 14, 2017

REVIEW Kun Anta: Cantik dari Hati, Cantik jadi Diri Sendiri



@NegeriAkhirat
xiv + 226 halaman
Wahyu Qolbu, 2016
 
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula
menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu.”
(HR. Muslim)

Inilah kisah-kisah nyata para perempuan yang telah membuktikan bahwa
cantik itu bukan dari lahiriah semata. Cantik yang sesungguhnya adalah
menjadi diri sendiri, percaya diri, & mensyukuri pemberian Ilahi. Itulah cantik dari hari cerminan MUSLIMAH SEJATI
. . .
“Masya Allah, buku yang memotivasi para wanita untuk menjadi cantik di mata Allah SWT.”
-Zee Zee Shahab: Aktris & Presenter “Berita Islami Masa Kini”

“Insya Allah, buku ini memberikan banyak kesadaran untuk bertafakur diri
sehingga kita selalu ingin taat kepada Allah SWT.”
-Terry Putri: Ex-Presenter “One Stop Football”

“Buku ini menjelaskan tentang arti cantik sesungguhnya, bahwa kecantikan
tidak hanya dilihat dari bentuk fisik, tetapi kecantikan yang sempurna
berasal dari hati.”
-@ressarere: Pemeran Utama Film “Tausiyah Cinta”

“Buku yang menginspirasi muslimah untuk memaknai cantik sebenarnya, 
yang terpancar dari cahaya iman dan amal saleh.”
-Hanum Salsabiela Rais: Penulis “Bulan Terbelah di Langit Amerika” & “Faith and The City”

“Buku ini memberikan solusi agar cantik di depan Sang Khalik, bukan makhluk!”
-Hidayatur Rahmi: Finalis Word Muslimah 2013


Paras rupawan, rambut panjang, badan tinggi semampai, kulit putih bersih, langsing, bulu mata lentik serta bibir merona. Apakah itu definisi cantik menurutmu? Siapa yang tidak mau jadi cantik sempurna seperti itu? Tapi tahukah kamu bahwa definisi cantik bagi seorang muslimah bukanlah yang seperti itu? Cantik bagi seorang muslimah, bukan hanya cantik secara fisik, namun kecantikan akhlak dan hati lah yang paling utama.

“Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat rupamu, tetapi Allah melihat hatimu.” (HR. Muslim) – halaman 25

Di bab awal buku ini, kita sudah disuguhi  pertanyaan “Who is muslimah?”. Bab ini membahas bagaimana menjadi seorang muslimah sejati, arti cantik menurut Islam, kisah-kisah dari Ghumaisha’ binti Mahlan, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah binti Muzahim.

Pada bab lain ada pembahasan mengenai  amalan-amalan yang dapat memancarkan kecantikan seorang muslimah dan amalan saat sedang haid. Ada pembahasan mengenai shalat, mulai dari shalat wajib sampai shalat sunah, ada juga pembahasan tentang puasa, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, cara menjaga kehormatan seorang muslimah, berbusana sesuai ajaran Islam, bahkan hukum menggunakan cadar pun dibahas di buku ini.

“Kebanyakan wanita meletakkan tangan di mulutnya ketika ia sedang menangis dan lelaki meletakkan tangannya di matanya ketika ia sedang menangis, seolah-olah mereka mengetahui dari mana banyak terhasilnya dosa.” (Dr. Khalid Abd. Aziz Muhammad Al Jubair) – halaman 59

Menurutku buku ini recommended banget sih. Bukunya nggak gede, nggak tebal juga. Gaya bahasanya nggak terkesan menggurui, jadi kalau baca buku ini nggak kayak lagi diceramahin hoho. Isinya nggak ngebosenin, soalnya disini kita juga disuguhi pengalaman berhijrah dari teman-teman, proses bagaimana mereka memaknai arti cantik yang sebenarnya, jadi kayak sharing gitu. Nah, kisah hijrah mereka ditulis selang-seling dari materi utamanya. Di buku ini juga banyak diselipin quotes yang sangat menginspirasi. Banyak banget, tiap bab pasti ada.

“Beruntunglah jika Allah masih membisikkan kebaikan dalam hatimu. Khawatirlah jika Allah tak peduli lagi padamu.” – halaman 123

Aku juga suka sama desain bukunya, warnanya paduan putih, pink, dan abu. Cewek banget deh pokoknya. Tiap subbab dikasih pembeda, misalnya judul subbab tulisannya lebih gede atau warnanya beda. Terus bagian-bagian yang penting atau quotes dikasih pembeda kayak frame gitu. Lucu deh, gemes banget. Di buku ini juga ada mini komik gitu, tiap judul cuma beberapa panel, nggak banyak. Dan 2 kata untuk buku ini: recommended, inspiratif.

“Wanita yang senantiasa memelihara ketakwaan akan dapat mengalahkan kecantikan yang hanya dimiliki lahiriah.” (Teh Ninih Muthmainah) – halaman 216